Abu Hanifah memenuhi hati banyak orang dengan rasa kagum dan memenuhi akal-akal dengan ilmu dan hikmah. Suatu hari, Abu Hanifah menemui Al-Manhsur. Keduanya berbincang di antara taman-taman obrolan dan bunga-bunga ilmu. Al-Manshur kagum oleh pendapat dan kecerdasan Abu Hanifah, lalu mem-berinya 30.000 dirham.
Abu Hanifah kemudian berkata sembari mengemukakan alasan, “Wahai Amirul Mukminin! Aku ini orang asing di Baghdad dan aku tidak punya tempat untuk menyimpan uang tersebut. Taruh saja uang itu di Baitul Mal sampai nanti aku memerlukannya.”
Abu Ja’far Al-Manshur menaruh uang tersebut di Baitul Mal. Saat Abu Hanifah meninggal dunia dan seluruh barang titipan orang dikeluarkan dari tempatnya, Al-Manshur baru tahu bahwa Abu Hanifah melakukan hal itu semata agar tidak menerimanya. Dengan rasa kagum kepada Abu Hanifah, Al-Manshur berkata, “Abu Hanifah telah menipu kami. ” (Tarikh Baghdad, XIII: 359, Manaqib Al-Imam Al-Azham, 1: 194)
BACA JUGA: Abu Hanifah dan Pengajar Anak-anak
Abu Hanifah Tsiqah Tsiqah
Imam jarh dan ta’dil, Yahya bin Ma’in pernah menjelaskan tentang para perawi tsiqah dan dha’if, dan bagaimana mereka menerima hadits Rasulullah. Seseorang kemudian datang dan bertanya kepadanya tentang Abu Hanifah An-Nu’man. la berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Hanifah, apakah ia tsiqah atau dha’if?” Yahya bin Ma’in dengan lapang dada berkata, “Abu Hanifah tsiqah tsiqah. Demi Allah, ia terlalu wara’ dan mulia untuk berdusta.” (Al-Manaqib, Muwaffiq, 1: 193.
Siapa Orang yang Muncul di Kufah Itu?
Seseorang bercerita, “Abdullah bin Mubarak pernah tiba di Syam untuk menemui Auza’i. Aku melihatnya lalu ia bertanya kepadaku, “Siapa ahli bid’ah yang muncul di Kufah yang disebut dengan kunyah Abu Hanifah itu?”
Aku kemudian pulang ke rumah lalu mengambil kitab-kitab Abu Hanifah, aku mengeluarkan beberapa permasalahan darinya setelah itu aku membawanya ke hadapan Abdullah bin Mubarak.
la bertanya, “Kitab apa itu?”
Aku memberikan kitab itu kepadanya lalu ia membaca bebe-rapa permasalahan di dalamnya. la terus saja berdiri setelah adzan dikumandangkan hingga ia membaca bagian awal kitab. Setelah itu ia menaruh kitab tersebut di dalam lengan bajunya, kemudian mengerjakan shalat, lalu setelah itu mengeluarkan kitab tersebut dan membacanya lagi.
BACA JUGA: Abu Hanifah, Orang yang Paling Berbakti kepada Ibunya
la bertanya kepadaku, “Siapa Nu’man bin Tsabit ini?”
Aku menjawab, “Seorang syaikh yang aku temui di Irak.”
la berkata, “Dia ini syaikh mulia. Pergilah dan banyak-banyak-lah menimba ilmu darinya.”
Aku berkata, “Dia ini Abu Hanifah yang engkau melarangku berguru kepadanya,” (Tarikh Baghdad, XIII: 338)
Jangan Berkata Buruk tentang Abu Hanifah
Di salah satu halaqah ilmu, Isa bin Yunus duduk mengajari orang-orang. la menyebut tentang Abu Hanifah dan ilmunya. la kemudian membacakan permasalahan-permasalahan Abu Hanifah. Seseorang di antara yang hadir kemudian berdiri dan men-cela Abu Hanifah. Dengan marah, Isa meneriaki orang tersebut, “Hai kamu! Semoga Allah mematikanmu dengan segera. Jangan berkata buruk tentang Abu Hanifah dan jangan percaya pada seorang pun yang berkata buruk tentangnya, karena -demi Allah-tidak pernah aku melihat orang yang lebih baik dan lebih wara darinya. ” (Al-Manaqib, Muwaffiq, 1: 197) []
Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


