Humaid berkisah: Di suatu hari, aku mendengar tangisan Hasan Al-Bashri. Di momen itu aku mendengar beliau berkata, “Ya Rabbi, kapankah aku bisa tunaikan syukur atas nikmat-Mu, sedangkan tak lahir syukur kecuali dengan nikmat baru dan pertolongan lagi dari-Mu! Sungguh rugi kaum yang terusir dari pintu-Mu dan tertutupi oleh tirai-Mu.”
Lalu beliau mengucapkan bait syair,
Jika aku tidak bersyukur kepada-Mu atas usaha dan kekuatanku Mu dan tak pula ku serahkan seluruh cinta bagi- maka tak selamat jiwa ini walau sesaat – dan terbitnya mentari takkan lagi aku lihat.
Kemudian beliau beristighfar dan menangis lagi. Dan berucap, “Hati yang mencintai Allah menyukai penat (dalam ibadah) dan lebih memilih lelah untuk taat. Sungguh berat surga digapai oleh orang yang memilih banyak bersantai.
BACA JUGA: Nasihat Imam Hasan Al-Bashri tentang Memberi Nasihat
Barang siapa yang mencintai, dia akan berkorban. Dan siapa yang jujur menginginkan sesuatu, dia siap berkorban walau dengan dirinya, dan melepaskan angan-angan yang merupakan modal orang-orang bodoh.”
Pernah ada orang yang bertanya kepada Hasan: “Wahai Abu Sa’id, mengapa orang yang gemar tahajud sangat indah wajahnya?”
Hasan menjawab, “Karena mereka menyendiri bersama Allah ar-Rahman, maka Dia memberi mereka bagian dari cahaya-Nya lalu terlihat pada wajah mereka.”
Ada pula yang bertanya: “Wahai Abu Sa’id, i bagaimana pendapat Anda tentang orang yang melakukan dosa, lalu bertobat, kemudian mengulanginya lagi?”
Hasan menjawab, “Yang aku tahu itu bukan akhlaknya orang-orang beriman.”
Pernah ada perbincangan tentang para sahabat nabi. Saat itu juga hadir Hasan; beliau kemudian mengatakan,
“Semoga Allah mensucikan arwah mereka; mereka hadir di kala kita tidak ada, mereka mengerti dan kita tidak, segala hal yang mereka sepakati maka kita ikuti; namun, perkara yang mereka perselisihkan, kita tidak ikut memasuki.”
Hasan sering memberi nasihat, “Membersihkan masjid dan mengisinya dengan dzikir ialah mahar bidadari.”
Beliau pun acap kali mengatakan, “Sepatutnya bagi orang yang mengetahui dia akan meninggal, menjumpai hari kiamat, dan bakal berdiri di hadapan Allah al-Jabbar (Maha Perkasa); untuk banyak merenung di dunia dan bersemangat tinggi dalam amal saleh.”
Ada yang menyampaikan kepada Hasan bahwa ada orang yang menggibahnya, lalu beliau memberikan hadiah sebaki berisi ruthab (kurma basah) dan mengatakan, “Engkau sudah menghadiahkan pahalamu untukku dengan ghibah yang kau lakukan terhadapku, maka aku membalasnya dengan hadiah ini.”
Lelaki itu menjadi malu, dan setelahnya ia tidak pernah lagi berkomentar buruk mengenai Hasan.
Hasan biasa mengucapkan sebuah bait syair jika melihat seseorang yang banyak diam, tidak ada kesibukan untuk hal yang bermanfaat buat agamanya, yaitu:
Bahagiakah jika berteman dengan orang-orang yang terus menimbun bekal, sedang dirimu tak berbekal?
Hasan juga sering mengatakan, “Hai anak Adam! Waktu siangmu ialah tamumu, berbuat baiklah kepadanya! Jika engkau baik kepadanya, maka dia pergi dengan menyanjungmu. Tetapi jika buruk sikapmu, dia pergi dengan mencelamu. Begitulah pula waktu malammu.”
Beliau mendorong kita agar selalu melakukan yang terbaik di siang ataupun malam hari. Jika diisi dengan kebaikan dan ibadah, maka hari dan malam itu akan membahagiakan kita di hari kemudian. Tetapi bila diisi dengan dosa dan kemaksiatan, maka siang dan malam tersebut akan mendatangkan penyesalan.
Saat putra Hasan lahir, maka kawan-kawannya mengucapkan selamat dan mendoakan, “Semoga Allah mencurahkan berkah yang banyak dalam karunia-Nya, dan semakin menambahkan buatmu nikmat-nikmat-Nya.”
Hasan mengatakan, “Segala puji bagi Allah di tiap kebaikan; dan kami memohon tambahan kepada Allah di tiap kenikmatan. Mudah-mudahan tidak menjadi anak yang memberatkanku di saat susah, tak melalaikan di saat berada, dan tak mendorongku untuk terus memberi dan melayaninya; bahkan sampai meninggal mengasihani hidup berat yang dihadapinya, padahal sedih dan gembiranya tidak berarti lagi bagiku.”
Hasan juga sering mengatakan, “Sungguh, rasa takutmu yang berujung keamanan lebih baik daripada merasa aman tetapi akhirnya ketakutan.”
Ini bimbingan bagi kaum yang beriman agar selalu menyimpan rasa takut pada azab Allah; dengannya seseorang mendapatkan keamanan di akhirat. Daripada merasa aman dari siksa-Nya, merasa tidak mungkin Allah hukum, hingga yang haram sekali pun diterjangnya demi memuaskan dahaga syahwatnya, sungguh rasa aman dari siksa semacam ini bisa berujung pada ketakutan besar di hari pembalasan.
BACA JUGA: Nasihat Imam Hasan Al-Bashri soal Menikahkan Anak Perempuan
Hasan pun menasihatkan, “Ada sesuatu yang sudah sangat pasti tetapi menjadi seperti yang tidak pasti: yaitu keyakinan kita tentang mati, tetapi bersiapnya bukan untuk mati.” – Yakni sudah jelas pastinya kematian; semua orang tahu tanpa perlu penjelasan, tetapi mengapa dalam hal persiapan masih kurang, seperti menghadapi yang tidak akan terjadi.
Beliau juga berkata: Ada riwayat hadits yang mengatakan,
“Tidak ada sedekah yang pahalanya lebih besar daripada sedekah dengan ucapan.”
Lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa artinya sedekah dengan ucapan?”
Kata beliau, “Yaitu: memberi rekomendasi untuk memudahkan urusan orang lain. Siapa yang mengerjakannya, maka Allah akan menutupi aibnya, memudahkan urusannya, dan menghilangkan kesusahannya.” (Dha’if [Adh-Dhaifah, 1442). H.R. Ath-Thabrani (6962), al-Qudha’i (Musnad asy-Syihab, 1279). []
Sumber: Kumpulan Nasihat Bijak untuk Hidup Lebih Bermakna Hasan al-Bashri / Al-Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi / Penerbit: Al-Abror Media
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


