Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam masalah tawadhu. Meskipun Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia di sisi Allah, namun Beliau tidak pernah sombong dengan kedudukannya ini, bahkan beliau merendahkan hati dengan mencintai para sahabat, kerabat, dan anak-anaknya, hingga mereka pun akhirnya mencintai dan memuliakannya, bahkan lebih mengutamakan kebutuhan Rasul daripada kebutuhan mereka sendiri.
Ketawadhu’annya ini membuat Rasul semakin dihormati dan dicintai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Banyak para sahabat yang dengan bangga menceritakan ke-tawadhu’an Rasul. Di antaranya adalah Abu Sa’id al-Khudri. Dia berkata,
“Rasulullah ﷺ memberi makan hewan-hewan piaraan, mengikat unta, membersihkan rumah, memerah susu kambing, memperbaiki sandal, menjahit baju, makan bersama pem-bantunya, membantu menumbuk (gandum) bila pembantunya capek, membeli sesuatu dari pasar dan membawanya sendiri ke rumah, berjabat tangan dengan orang kaya, orang fakir, orang tua, anak muda, memulai memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya baik itu besar, kecil, orang berkulit hitam atau putih, orang merdeka ataupun budak.” (Ihya Ulumiddin, 3/306)
BACA JUGA: Cinta Thalhah bin Al-Barra kepada Rasulullah
Contoh lain dari ketawadhu’an Rasul adalah, di saat beliau menyuruh sahabat-sahabatnya untuk memasak kambing, salah se-orang dari mereka menawarkan diri sebagai penyembelih. Yang lain siap menguliti dan ada juga yang siap memasaknya. Rasul bersabda, “Saya yang bertugas mengumpulkan kayu bakar.” Mendengar per-kataan Rasul ini para sahabat terkejut dan berkata, “Cukup kami yang mengerjakan semuanya wahai Rasul.” Namun Rasul menjawab, “Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tetapi saya tidak suka düstimewakan. Sesungguhnya Allah SWT tidak suka melihat salah seorang hambanya diistimewakan dari kawan-kawannya. (Syam az-Zurqani, 4/265)
Contoh lainnya adalah, di saat utusan kaum Najasi datang menghadap Rasul ﷺ ., beliau menyambut dan menjamu mereka sendiri. Di antara sahabat ada yang berkata kepada Rasul, “Cukup kami yang melakukan semua tugas ini, wahai Rasul.” Rasul menjawab, “Tidak. Mereka telah memuliakan sahabat-sahabatku (ketika men-datangi mereka). Dan saya senang bila bisa membalas kebaikannya.”
Sahabat Abu Hurairah r.a. berkata, “Suatu hari saya pergi ke pasar bersama Rasulullah ﷺ. Beliau membeli kain celana dan berkata kepada orang yang mengukur-nya, ‘Ukurlah dengan tepat!’ Melihat yang di hadapannya adalah Nabi, orang itu langsung meraih tangan beliau dan mencium-nya. Namun Rasul menarik tangannya tersebut dari genggaman orang itu sambil berkata, ‘Ini adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang ajam terhadap raja-raja mereka. Saya bukanlah raja, saya hanyalah seorang manusia seperti kalian. Kemudian beliau mengambil kain celana tersebut, dan saya memintanya dengan maksud membantu membawakan kain itu, namun beliau berkata, Jangan. Pemilik barang lebih berhak membawanya.” (Nurul-Yaqin)
Sayyidah Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah ﷺ membetulkan sandalnya sendiri, menjahit bajunya sendiri, mengerjakan pekerjaan rumahnya sebagaimana kalian mengerjakan pekerjaan rumah kalian. (Suatu ketika) di malam hari, keluarga Abu Bakr memberi kami seekor kambing, saya yang memegang kambing itu dan Rasulullah ﷺ yang memotong lehernya.” (Fathul-Mubdi, 1/250)
BACA JUGA: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda, “Wahai manusia, janganlah kalian memuliakanku melebihi kedudukanku. Sesungguhnya Allah SWT menjadikanku sebagai seorang hamba sebelum Dia mengangkatku sebagai Nabi.” (10 Kanzul-Ummal, 2/132)
Satu hari Rasulullah ﷺ mandi di sebuah sumur dan Hudzaifah ibnul al-Yaman memegang kain untuk menutupi Rasulullah ﷺ. Setelah selesai, Hudzaifah ganti yang mandi dan Rasul mengambil kain yang digunakan Hudzaifah untuk menutupinya tadi, dan beliau memegangi kain itu untuk menutupi Hudzifah dari pandangan orang-orang. Hudzaifah melarang dan berkata, “Demi Ayah dan Ibuku, wahai Rasul, jangan lakukan itu.” Namun Rasulullah menolak permintaan Hudzaifah, dan terus memegangi kain untuk menutupi Hudzaifah yang sedang mandi.” (11 Ihya Ulumiddin, 2/318) []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


