JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 12: Tawasul dengan Doa

istighfar

وعن أَبي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُولُ : « انْطَلَقَ ثَلَاثَهُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ الْمَبِيْتُ إِلَى غَارِ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ ؛ فَقَالُوا : إِنَّهُ لا يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحٍ أَعْمَالِكُمْ . قَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ : اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لَا أَغْبِقُ قَبْلَهُما أَهْلاً وَلا مَالاً ، فَنَأَى بِي طَلَبُ الشَّجَرِ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْت لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَأَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ – وَالْقَدَحُ عَلَى يَدِي – أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ وَالصَّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمي ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوفَهُمَا . اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئاً لا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهُ . قَالَ الآخَرُ : اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمَّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ – وَفِي رِوَايَةٍ : كُنْتُ أُحِبُّهَا كَأَشَدٌ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ – فَأَرَدْتُهَا عَلَى نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِها سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمَائَة دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ ، حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا – وَفِي رِوَايَةٍ : ( فَلَمَّا فَعَدْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا ، قَالَتْ : اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تَقُضَ الْخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطِيتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعْلتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَاخْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجِ مِنْهَا . وَقَالَ الثَّالِثُ : اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أَجَرَاءَ وَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ ، فَتَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدْ إِلَيَّ أَجْرِي ، فَقُلتُ : كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ : مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ ، فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللهِ لا تَسْتَهْرَى بي ! فَقُلْتُ : لَا أَسْتَهْزِيءُ بِكَ ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَافَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا : اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَاخْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abdurrahman Abdullah ibn Umar ibn Al-Khaththab ra., ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Dahulu sebelum kalian ada tiga orang sedang berjalan lalu mendapati sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh. Mereka masuk ke dalamnya. Tetapi tiba-tiba ada sebuah batu besar dari atas bukit menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar. Salah seorang di antara mereka berkata: “Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari bencana ini kecuali jika kalian mau berdoa kepada Allah dengan menyebut amal-amal kebaikan yang pernah kalian lakukan.” Salah seorang di antara mereka berkata: “Ya Allah, saya dahulu mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta. Saya biasa lebih mendahulukan mereka dalam memberi minum susu daripada keluarga saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu. Saya mendapati mereka sudah tidur pulas. Saya tidak mau membangunkan mereka.

Saya juga tidak mau memberikan susu itu kepada keluarga maupun kepada budak sebelum mereka. Sambil memegang gelas berisi minuman susu itu saya tunggui mereka hingga terbit fajar. Begitu bangun, saya sodorkan minuman itu kepada mereka. Padahal sejak semalam anak-anak saya menangis terisak-isak sambil mengelilingi kaki saya. Ya Allah, jika yang saya lakukan itu demi mengharap kendhaan-Mu, tolong keluarga kami dari kesulitan yang tengah menimpa kami ini”. Batu itu mulai bergeser sedikit, dan mereka belum bisa keluar dari gua itu.

BACA JUGA:  Riyadhush Shalihin Hadist 10: Menunggu Shalat dalam Masjid

Yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya dahulu saya mempunyai saudari sepupu yang sangat saya cintai-dalam riwayat yang lain disebutkan, saya sangat mencintainya seperti lazimnya seorang lelaki yang sangat mencintai seorang wanita. Saya ingin menggaulinya, tetapi ia menolaknya. Selang beberapa tahun kemudian ia tertimpa kesulitan, la datang kepada saya meminta tolong. Saya memberinya uang seratus dua puluh dinar dengan syarat ia mau saya gauli, dan rupanya ia tidak menolak. Dan ketika saya sudah berhasil menguasainya dalam riwayat lain disebutkan, ketika saya sudah menindihnya, ia berkata: “Takutlah kamu kepada Allah. Jangan kamu masukkan cincin secara tidak benar “. Seketika saya menjauhinya Padalah ia adalah orang yang sangat saya cintai. Bahkan saya rela memberinya emas. Ya Allah, jika apa yang saya lakukan itu demi mengharapkan keridhaan-Mu, tolong geserlah batu yang menutupi gua ini” Maka bergeserlah batu itu. Tetapi mereka juga masih belum bisa keluar dari gua.

Orang yang ketiga berkata: “Ya Allah, dahulu saya pernah mempekerjakan beberapa karyawan. Mereka semua saya upah dengan penuh, kecuali ada seorang karyawan yang meninggalkan saya dan tidak mau mengambil upahnya lebih dahulu. Kemudian upahnya itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa lama kemudian ia datang menemui saya dan berkata: “Wahai hamba Allah, berikan upah saya yang dahulu itu “. Saya berkata. “Semua yang kamu lihat berupa unta, sapi, domba, dan budak yang menggembalakannya itu adalah upahmu”. la berkata: “Wahai hamba Allah, kamu jangan mempermainkan saya”. Saya katakan: “Saya tidak mempermainkan kamu”. Kemudian ia pun mengambil semuanya itu tanpa meninggalkannya sedikit pun. Ya Allah, jika apa yang saya lakukan itu demi mengharapkan keridhaan-Mu, tolong geserkan batu yang menutupi pintu gua ini” Maka bergeserlah batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua.”

Hadits ini diriwayatkan Bukhari dalam kitab Para Nabi bab “Ashabul Kahfi” (4/369, 370) dan Muslim dalam kitab Kelembutan Hati bab “Kisah Tiga Ahshabul Kahfi dan Tawasul dengan Amal Saleh” (2743).

Penjelasan Kata

نفر Orang. Kata ini adalah bentuk jamak yang menunjukkan bilangan kaum tertentu bagi laki-laki, yaitu bilangan antara tiga sam-pai sepuluh, dan kata ini tidak ada bentuk tunggalnya.

لا أَغْبُنُ Dari kata ini terambil kata al-ghabuq yang berarti minuman sore/malam, sama dengan kata ash-shabuh minuman pagi hari. Maksud kalimat di atas ialah bahwa aku tidak menghidangkan kepada siapa pun sebelum mereka berdua.

وَلاَ مَالاً Maksudnya aku tidak memberikan kepada keluarga ataupun pelayan.

فَنَأَى Menjauh.

فَلَمْ أُرِحْ Berarti tidak bisa pulang pada malam hari, dari kata ini lahirlah ungkapan أَرَحْتُ

الإبل )ku pulangkan unta ke kandangnya pada malam hari).

برق Terbit dan bersinar terang.

يَتَصَاغَوْنَ Anak-anaknya berteriak kelaparan.

ابتغاء وجهك Karena mengharapkan ridha-Mu.

ففرح Kata ini adalah kalimat doa berarti bukakanlah.

فأردتها Kemudian saya menginginkannya. Ka-ta ini adalah ungkapan sindiran untuk per-mintaan menggaulinya.

المت Menimpa

سنة من السنين Suatu tahun. Maksudnya ada-lah tahun gersang, ketika tidak ada lagi sesua-tu yang tumbuh di atas tanah.

قَدَرْتُ عَلَيْهَا Aku mampu untuk itu. Maksud-nya, aku mempunyai kesempatan untuk meng-gaulinya tanpa ada halangan.

لا تَقْضِ الْحَاتم Janganlah kau lubangi cincin. Ini adalah ungkapan sindiran yang berarti: janganlah kaurobek keperawanannya.

إلا بحقه Kecuali dengan jalan yang benar. Maksudnya, dengan jalan nikah yang telah di-syariatkan.

فَتَمَّرْتُ Aku kembangkan.

BACA JUGA: Riyadhush Shalihin Hadist 9: Bila 2 Orang Muslim Berniat Saling Membunuh

Mutiara-Mutiara Hadits

1. Anjuran untuk memanjatkan doa ketika ditimpa kesulitan dan yang lainnya, dan dibolehkannya melakukan tawassul (mengadakan perantara) kepada Allah SWT dengan amal saleh.

2. Keutamaan berbakti dan melayani kedua orang tua dan lebih mengutamakan mereka berdua dibanding orang lain, baik anak maupun istri.

3. Anjuran dan imbauan untuk selalu menjaga diri dari perkara-perkara yang haram, apalagi ketika seseorang itu sudah mampu dan berkecukupan untuk meninggalkan perkara haram itu karena Allah SWT semata.

4. Keutamaan janji yang baik, menunaikan amanat dan bersikap toleran dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia.

5. Dikabulkannya doa orang yang menghadapkan diri kepada Allah SWT dengan tulus dan ikhlas ketika ditimpa musibah, apalagi jika sebelumnya ia telah melakukan amal saleh.

6. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang telah melakukan kebaikan.

7. Jejak amal kebaikannya tampak jelas ketika dia ditimpa kesulitan dan malapetaka, lalu Allah SWT menyelamatkannya. Ini adalah bentuk karamah yang diberikan Allah kepada wali-wali-Nya. []

Sumber: Nuzhatul Muttaqiin Syarhu Riyaadhish Shaalihiin (Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 1) / Penulis: Imam an-Nawawi (Pensyarah: Musthafa Dib al-Bugha dkk -Penerjemah: Misbah) / Penerbit: Asli Darul Musthafa / Gema Insani

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 11: Niat Kebaikan dan Keburukan

Hadist

Riyadhush Shalihin Hadist 10: Menunggu Shalat dalam Masjid

Hadist

Hadits Qudsi ke-6 tentang Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam Banyak Membaca Subhanallahi wa Bihamdih, Astaghfirullah, Wa Atubu Ilaih

Hadist

Hadits Qudsi 6: tentang Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam Banyak Membaca "Subhanallahi wa Bihamdih, Astaghfirullah, wa Atubu Ilaih"