JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Sirah dari Syaikh

Syaikh Aaq Syamsudin. Ia ulama yang nasabnya bersambung pada Abu Bakar ash Shidiq. Usia 7 tahun, ia sudah menjadi hafidz Quran. Ia pun ahli di bidang biologi, kedokteran, astronomi, pengobatan herbal.

Ia diminta oleh Sultan Murad II untuk mengajari Mehmed.

“Sungguh,” ujar Syeikh Syamsudin mengulang-ulang Hadist Rasul riwayat Ahmad ini kepada Mehmed nyaris setiap waktu, “Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya. Dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukannya.”

Bahkan Syaikh Syamsudin selalu menegaskan, Mehmedlah pemimpin yang dimaksud dalam hadits ini.

Setiap hari, Syaikh menyampaikan kisah pada Mehmed. Ia menanamkan kepribadian Rasulullah SAW lewat sirahnya. Dipaparkannya ketakwaan dan keteguhan para generasi awal. Kepahlawanan dan kisah penaklukan mereka.

Maka, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Umar bin Abdul Azis, Salahudin al Ayubi begitu dekat dengan Mehmed. Sosok-sosok dalam sirah menjadi awal terbentuknya karakter penaklukan dalam pribadi Mehmed.

Syaikh Syamsudin memahami betul, kisah-kisah itu menjadi wasilah, untuk membentuk kepribadian Mehmed. Hingga ia kelak, siap menjadi pemimpin terbaik.

Di usia 21 tahun, Mehmed memiliki karakter yang kuat, jauh melebihi usianya. Pemimpin yang keyakinannya akan janji Allah tak tergoyahkan. Dan lihatlah apa yang dilakukannya. Ia memindahkan 72 kapal dari selat Bosphorus menuju Teluk Tanduk Emas.

Sebuah tindakan yang menjadi awal terbukanya benteng Konstantinopel, setelah 11 abad sulit ditaklukan. Tindakan yang ia ambil dari contoh pahlawan pendahulunya, Salahudin Al Ayubi, yang melakukan hal yang sama di laut merah di abad ke-12. Tindakan yang merefleksikan pengetahuan dan pemahamannya akan sejarah.

Hari ini, bukan cerita fantasi, dengan tokoh fiktif dari negeri antah berantah, apatah lagi rekaan modern animasi, kepada anak-anak, sampaikanlah kisah nyata yang akan membentuk watak mereka. Kisah sejarah yang tidak hanya menjadi kenangan manis untuk di kenang. Tapi ia menjadi arah dan dasar perencanaan untuk kemenangan di masa depan.

Sejarah akan mengulangi dirinya sendiri. Generasi hari ini tidak akan menjadi baik kecuali dididik sebagaimana generasi awal diperbaiki. Sebagaimana sang penakluk melakukannya, Mehmed II, Muhammad al Fatih. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: wa.me/6285860492560 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam20
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Mansyur bin Dzadzan, Kata-katanya Membuat Seorang Syekh Menangis

Ibrah

Husnul Khatimahnya Seorang Pembaca Alquran

Ibrah

Ibadahnya Para Ulama (2-Habis)

Ibrah

Ibadahnya Para Ulama (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *