Dia adalah Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. Dia adalah ulama hadits yang sangat populer. Dilahirkan di Bukhara, salah satu kota di Uzbekistan, yang terletak di simpang jalan antara Rusia, Persi, Hindia dan Tiongkok. Dia lebih dikenal dengan nama Al-Bukhari (putra daerah Bukhara).
Dia dilahirkan seusai pelaksanaan shalat Jumat, pada tanggal 13 Syawal 194 H (810 M). Dia dikenal ahli hadits yang sulit dicari tandingannya, sangat wara’, qana’ah, sedikit makan, waktunya banyak digunakan membaca Al-Qur’an baik siang maupun malam, dan gemar berbuat kebajikan kepada murid-muridnya.
Konon, nenek moyangnya yang bernama Al-Mughirah bin Bardzibah adalah seorang penganut agama Majusi yang kemudian menyatakan masuk Islam di hadapan walikota yang bernama Al-Yaman bin Ahnas Al-Ju’fi. Oleh karena itu, dia dinasabkan kepada Al-Ju’fi.
BACA JUGA: MasyaAllah, Imam Bukhari dan Hafalan Hadisnya
Perhatian dia terhadap ilmu-ilmu hadits dimulai sejak berusia kurang lebih sepuluh tahun dan dia sudah banyak menghafal hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia merantau ke negeri Syam, Mesir, Jazirah sampai dua kali, Basrah empat kali, Hijaz dan bermukim di sana selama enam tahun, kemudian pergi ke Baghdad berkali-kali bersama para ahli lainnya.
Suatu ketika dia pergi ke Baghdad. Para ulama hadits di Baghdad bersepakat untuk menguji kemampuan dan kapasitas dia sebagai ahli hadits yang masih muda yang namanya mulai populer dan menarik perhatian banyak orang.
Para ulama hadits itu terdiri dari sepuluh orang. Masing-masing akan mengutarakan kepadanya sebanyak sepuluh hadits yang sudah ditukar-tukar sanad dan matannya. Kemudian dia diundang ke sebuah pertemuan yang dihadiri juga oleh para ahli hadits lain baik dari dalam maupun luar kota, bahkan ulama hadits dari Khurasan diundang agar mengetahui kualitas dan kemampuan dia.
Satu persatu para ulama hadits yang jumlahnya sepuluh itu menanyakan 10 hadits yang telah dipersiapkan kepadanya. Jawaban yang diberikan olehnya kepada penanya yang pertama hingga penanya yang kesepuluh adalah cukup singkat, “Saya tidak mengetahuinya.”
Langkah yang dilakukan dia ini sebagai rasa tawadhu’ dan penghormatannya di hadapan para ulama hadits lain. Namun, setelah dia mengetahui bahwa para ulama hadits itu ingin menguji kemampuannya di bidang ilmu hadits, maka dia terpaksa menjelaskan secara panjang lebar dengan membenarkan atau mengembalikan baik matan maupun sanad hadits yang diacak tidak karuan oleh kesepuluh para ulama hadits itu.
Penjelasan dia yang cukup panjang dalam membenarkan kesalahan dari seratus hadits yang dikemukakan para ulama hadits, membuat para ulama hadits yang hadir sangat tercengang dan harus mengakui kepandaian, ketelitian, dan hafalan dia di bidang ilmu-ilmu hadits.
Dia belajar dan memperoleh hadits dari beberapa orang yang dikenal sebagai penghafal hadits, di antaranya, Maki bin Ibrahim, ‘Abdullah bin ‘Usman Al-Marwazi, ‘Abdullah bin Musa Al-Abbasi, Abu ‘Ashim Asy-Syaibani dan Muhammad bin ‘Abdullah Al-Anshari.
Adapun ulama besar yang pernah belajar dan mendapatkan hadits darinya di antaranya adalah Imam Muslim, Abu Zur’ah, At-Turmudzi, Ibnu Khuzaimah, dan An-Nasa`i.
Karya ilmiahnya tidak hanya terbatas pada kitab hadits saja, melainkan meliputi banyak disiplin ilmu pengetahuan lain, seperti kitab Qadhaya Ash-Shahabah Wa At-Tabi’in; At-Tarikh Al-Kabir; At-Tarikh Al-Ausath; Al-Adab Al-Munfarid dan Bir Al-Walidain.
Adapun karyanya di bidang hadits yang sangat monumental adalah kitab Shahih Al-Bukhari. Kitab ini merupakan kumpulan hadits-hadits shahih yang dia persiapkan selama enam belas tahun. Dia sangat berhati-hati dalam menulis setiap hadits yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Setiap kali hendak mencantumkan hadits dalam kitab ini, lebih dahulu dia mandi dan melaksanakan shalat istikharah untuk minta petunjuk kepada Allah.
Ini bukan satu-satunya cara dia dalam menentukan keshahihan hadits secara ilmiah. Lebih dari itu bahwa seluruh ulama di seluruh penjuru dunia setelah melakukan penelitian sanad-sanad yang dikemukakan dalam kitab ini mengakui bahwa seluruh sanad-sanadnya adalah tsiqah (terpercaya) dan diakui juga ada beberapa buah saja yang dinilai lemah sanadnya, tetapi tidak termasuk sanad yang sangat lemah.
BACA JUGA: Keteladanan Imam Bukhari
Hadis-hadis yang dimuat dalam kitab ini adalah shahih semua. Ini berlandaskan pada pengakuan dia sendiri, “Saya tidak memasukkan hadits dalam kitab ini kecuali shahih semuanya.”
Jumlah hadits yang dimuat dalam kitab ini sebanyak 6397 buah, dengan hadits yang diulang-ulang dan belum termasuk yang mu’allaq dan mutabi’. Yang mu’allaq sebanyak 1341 buah dan yang mutabi sebanyak 384 buah (ini masih khilaf). Jadi, seluruh hadits yang tercantum dalam kitab ini sebanyak 8122 buah, di luar yang maqthu dan mauquf. Adapun jumlah yang sebenarnya, tanpa ada hadits yang diulang-ulang (tanpa memasukkan yang mu’allaq dan mutabi’) adalah sebanyak 2513 buah.
Dia meninggal dunia pada malam Sabtu setelah melaksanakan shalat Isya’ pada malam Idul Fitri 252 H (870 M). Dia dikebumikan sehabis shalat Dzuhur di Khirtank, sebuah kampung yang tidak jauh dari kota Samarkand. []
Sumber: Al-Ahaadütsu al-Qudsiyyah (Kumpulan Hadist QUdsi, Beserta Penjelasannya) / Penyusun: Imam An-Nawawi dan Al-Qasthalani) / Penerbit: Muassah ar-Rayan – Darul Manar / Cetakan: Bab 1446 H/ Februari 2025
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


